Posts

Lilin di Sudut Gelap (2) - Sebuah Cerbung

        Ini sudah memasuki 10 bulan Ayah tidak pulang dan tidak memberi kabar, setidaknya itu yang kutahu dari telepon Ibu kemarin sore. Aku sudah memasuki waktu-waktu sempit menuju try out nasional. Kesibukanku di kios dan privat mengajar anak-anak SD sedikit mengganggu aktivitas belajarku. Jadilah aku mengalami perubahan gaya hidup sejak 2 bulan yang lalu; tertidur dini hari, dan bangun di waktu shubuh. Terkadang aku hanya sempat tidur satu setengah jam, dari pukul 01.30 sampai 03.00 WIB. Tidak ada yang tahu aktivitasku, hanya wajahku selalu mengkhawatirkan.

Sang Surya

Ketika air tak lagi menyuburkan tanah-tanah itu, di situlah kusadar betapa teriknya mentari. Ketika yang memancarkan kehidupan malah menghancurkan, di situlah kutahu kebodohanku membuatnya liar. Banyak manusia tak paham, bahwa mengeringnya mata air, tak lagi tertahankan panasnya mentari, lapis-lapis pelindung menipis, adalah buah perbuatannya pula. Lalu mereka tersedu, meminta Tuhan berbaik hati padanya, mengembalikan kehangatan sang surya di pagi dan siangnya. Kadang mereka mengutuk, betapa nasib buruk menerpa bak badai yang tiada henti dan tak teratasi, seakan tubuh siap diterkam maut. Mengapa nasib buruk ini datang menghampiri?

Lilin di Sudut Gelap (1) - Sebuah Cerbung

Selamat malam cinta, kembali aku menemukanmu, dalam tumpukan bukuku. Lembar demi lembar kuhabiskan sudah, kadang tawa meledak, meledek diriku sendiri, kadang kernyitan dahi tak dapat terbendung, kadang tanda tanya besar menyapa, kadang teriris hatiku, menyapu habis tulisan kecilku di atas banyaknya ragam buku yang kukumpulkan. Kusebut dulu, diary. ***

Pernah Kau Lihat Bukuku di Lauh Mahfuzh?

Bismillah… Aku kembali termenung, menatap langit mendung. Mencerna ungkapan-ungkapan, seakan-akan telah mereka lihat buku hidupku, di lauh mahfuzh sana. 

Sebuah Cerita Sederhana: Sakit

Aku menatap punggungnya yang menjauh di lorong gedung, ini kali kedua aku berdebar ketika melihatnya berlalu. Sebelumnya, ketika ia berbicara dengan bahasa diplomatisnya yang membuat sekeliling terpana, aku justru berdebar, berdebar hebat. Tapi seingatku, itu setelah lama aku memperhatikannya, yang entah mulai kapan. Sepertinya ada yang salah denganku, tak biasanya aku begini. Tidak pernah sebelumnya malah.

Autokritik – Unsoed di Petang Hari (1)

Bismillah...  Belakangan ini banyak pikiran yang mengganggu saya, terlebih ketika memasuki 10 hari terakhir bulan Februari (seperti Ramadhan saja). Menjelang Maret, artinya menjelang beberapa agenda yang telah menghiasi tanggalan pribadi. Ada Pemilihan Raya Farmasi Unsoed, ada Musyawarah Komisariat Soedirman, dan memang Maret adalah waktu aktif akademik. Selain itu, kakak saya akan berangkat sekolah ke Jerman di bulan itu juga. Dan Maret, artinya berakhirnya Februari, di mana janji abi pulang dari Maluku sudah semakin kadaluwarsa. Dan tak terasa sekarang sudah Maret.

Jika Aku

Ya Muhaimin, jika aku jatuh cinta, jagalah cintaku padanya agar tidak melebihi cintaku pada-Mu