Posts

Mengapa Jadi Begini?

Image
Jodoh memang tak disangka. Ia bisa saja amat dekat, bisa pula datang dari yang teramat jauh. Jarak dan waktunya tak terpikir. Peristiwanya tak terbayang. Wajahnya tak tergambar. Bahkan tidak sedikit yang gagal berjodoh justru menjelang pernikahannya. Maka menjelang tanggal 20, ketika tiket nobar Tausiyah Cinta tertanggal 24 Desember hampir kupegang, turunlah keputusan dari steering committee tentang sebuah daurah yang akan dilangsungkan pada tanggal 23 sampai 24 Desember 2015. Sempat aku melakukan negosiasi agar acara tersebut dimajukan, tapi tidak berhasil. Aku pasrah. Bukan karena aku tidak berjodoh (untuk dipertemukan kembali) dengannya, tapi karena aku harus memupus azzamku. Kubatalkan pesanan tiketku, dan bersiap mengikuti daurah tersebut.

Pertemuan Singkat

Image
Tidak hanya satu-dua orang yang memintaku menuliskan kisah ini. Meski sulit menuliskannya sebab kisah kami sebelum bersatu amatlah singkat, tapi rumit, dan tidak semua hal dapat diceritakan. Paling tidak kealpaanku dalam tulis menulis dapat terobati dengan menuliskan kisah ini.

Tidak Boleh Menikahi Anak Ekonomi dan Pertanian?

Image
Suatu hari di sebuah ruang penuh kenang, kami bercengkerama, menghasilkan sebuah percakapan sarat canda, “Dosenku pernah bilang, ‘kalian sebagai anak Biologi dilarang pacaran dengan anak Ekonomi dan Pertanian,’ terus ada yang dengan beraninya nimpalin , ‘kalau nikah boleh, kan, Pak?’ kamu tahu ekspresi dosenku kayak gimana?”

REFUND (2)

Image
Saya tidak secepat itu memahami makna “untuk ummat” yang empat tahun lalu disarankan sebagai jawaban oleh kawan baik saya ketika saya bertanya tentang tujuan berkuliah. Sampai beberapa tahun kemudian saya masih memikirkannya, hingga saya menemukan banyak hal tentang keummatan di sebuah organisasi yang saya ikuti. Kurang lebih keummatan ini tentang pengabdian, kebermanfaatan, kemaslahatan, kontribusi. Lalu bagaimana saya mengimplementasikan jawaban—yang sudah melekat pada sebuah cita—tersebut dalam realita? Apakah saya harus menjadi pemangku kebijakan? Apakah saya harus menciptakan lapangan pekerjaan? Atau apakah saya harus membuat sebuah penemuan besar? Atau apakah saya harus memiliki omset besar? Sebelum itu, mari mundur sejenak…

REFUND (1)

Image
It’s hard to believe , saya sudah sarjana. Masih terngiang di telinga tentang obrolan kita 4 tahun lalu, di sebuah angkutan umum, ketika saya bertanya, “alasan apa yang membuat saya dapat bertahan di jurusan ini?” Lalu dijawab oleh seorang kawan baik, “untuk ummat.”

HCl 37%

Ini soal asam klorida (HCl) yang membuat peneliti kebingungan. Kebingungan menjawab pelarut apakah yang sebenarnya digunakan. Hingga titik kritis, peneliti yang sedang mempresentasikan hasil penelitiannya harus keluar dari ruang seminar untuk melihat label yang tertera di kemasan HCl pekat. Apalah daya, pertanyaan peserta seminar telah membuatnya mati gaya, harus jawab apa? Dan ketika gagang pintu sudah di tangan, dorongan dari dalam diri untuk menekan gagang ke bawah dikalahkan oleh ingatan yang lebih dulu terdesak dan terdorong keluar. Dan kalimat itu mengalir deras.

Bimala

Hujan mulai menderas, sederas rasaku yang tak terbendung. Layar imajinasiku mulai terbentang menembus langit gelap di hadapanku. Jika hati ini adalah bendungan, memiliki palang-palang pintu yang menahan air—sebagai rasaku—sedemikian rupa, kurasa banjir takkan terelakkan lagi, rumah-rumah terendam, pohon-pohon tergenang, motor-mobil tertahan di jalanan. Ah, ternyata rasa yang membuncah itu bisa merusak ya , gumamku. Kuhapus layar imajinasi itu, kutarik napas dalam-dalam, hembuskan perlahan. Kukira hanya itu cara terbaik menenangkan diri saat ini. Kusandarkan punggungku yang lelah setelah seharian bekerja, membiarkan udara lembap yang terbawa hujan deras menampar-nampar wajahku. Terhanyut.