Posts

Ketika Janji Akhirnya Terucap

Image
*Baca tulisan sebelumnya,  Ikatan yang Berbunyi Lamaran Aku mengerti. Telah berlalu banyak kemungkinan yang membuatku terjatuh, bangun, lalu terjatuh lagi, dan kemungkinan-kemungkinan itu ternyata berasal dari kepalaku, dari akalku, dengan segala kegegabahan, kebodohan, dan ketidaktelitiannya. Segalanya ku prediksi menurut pandanganku tanpa melibatkan orang lain, tanpa mempertimbangkan variabel lain. Maka, muncul lah keterjatuhan, keterpurukan, penyesalan. Begitu yang kualami, aku pernah jatuh hati; hati terpukau, melayang, lalu terjatuh. Beberapa kali. Bersebab perhitunganku yang salah. Kupikir dengan rasa suka, ditambah kedekatan, akan menjadikan kami berjodoh. Ternyata tidak juga. Bukan, sama sekali tidak!

Ikatan yang Berbunyi Lamaran

*Baca tulisan sebelumnya, Gelap Perempuan mana yang tidak bahagia menjadi pilihan? Sifat asli perempuan yang senang dipuji dan dipuja menjadikannya berbunga-bunga ketika ada yang menyenanginya, semakin banyak semakin bahagia. Lalu bagaimana dengan menjadi pilihan bagi orang yang didamba? Atau yang dirasai oleh hati, bahwa ialah yang tampak menawan. Tentu seperti melihat cahaya di ujung jalan setelah terkurung di dalam terowongan berkilo-kilometer, atau seperti melihat air setelah terjebak di tengah gurun, atau seperti melihat tali terjulur setelah berjam-jam terjatuh ke dalam sumur sedalam 15 meter. Ah, amat membahagiakan. Tapi kebahagiaan itu sempurna setelah dicapai bukan?

Gelap

*Baca dulu tulisan sebelumnya, Mengapa Jadi Begini? Suatu hari aku ditunjuk menjadi salah satu instruktur sebuah daurah yang diadakan oleh Unit Kegiatan Kerohanian Islam (UKKI) Unsoed. Pekerjaanku adalah menjadi fasilitator materi kedua dalam daurah tersebut, walaupun disebut fasilitator—biasanya—pada akhirnya hanya menjadi semacam LO bagi si pemateri. Pada rapat yang disempat-sempatkan, kami membahas perihal seluruh materi selama daurah, tentu tidak terlupa siapa pemateri pada masing-masing materinya. Baik, mari fokus pada inti masalah. Siang itu, aku sedikit melakukan kesalahan.

Mengapa Jadi Begini?

Image
Jodoh memang tak disangka. Ia bisa saja amat dekat, bisa pula datang dari yang teramat jauh. Jarak dan waktunya tak terpikir. Peristiwanya tak terbayang. Wajahnya tak tergambar. Bahkan tidak sedikit yang gagal berjodoh justru menjelang pernikahannya. Maka menjelang tanggal 20, ketika tiket nobar Tausiyah Cinta tertanggal 24 Desember hampir kupegang, turunlah keputusan dari steering committee tentang sebuah daurah yang akan dilangsungkan pada tanggal 23 sampai 24 Desember 2015. Sempat aku melakukan negosiasi agar acara tersebut dimajukan, tapi tidak berhasil. Aku pasrah. Bukan karena aku tidak berjodoh (untuk dipertemukan kembali) dengannya, tapi karena aku harus memupus azzamku. Kubatalkan pesanan tiketku, dan bersiap mengikuti daurah tersebut.

Pertemuan Singkat

Image
Tidak hanya satu-dua orang yang memintaku menuliskan kisah ini. Meski sulit menuliskannya sebab kisah kami sebelum bersatu amatlah singkat, tapi rumit, dan tidak semua hal dapat diceritakan. Paling tidak kealpaanku dalam tulis menulis dapat terobati dengan menuliskan kisah ini.

Tidak Boleh Menikahi Anak Ekonomi dan Pertanian?

Image
Suatu hari di sebuah ruang penuh kenang, kami bercengkerama, menghasilkan sebuah percakapan sarat canda, “Dosenku pernah bilang, ‘kalian sebagai anak Biologi dilarang pacaran dengan anak Ekonomi dan Pertanian,’ terus ada yang dengan beraninya nimpalin , ‘kalau nikah boleh, kan, Pak?’ kamu tahu ekspresi dosenku kayak gimana?”

REFUND (2)

Image
Saya tidak secepat itu memahami makna “untuk ummat” yang empat tahun lalu disarankan sebagai jawaban oleh kawan baik saya ketika saya bertanya tentang tujuan berkuliah. Sampai beberapa tahun kemudian saya masih memikirkannya, hingga saya menemukan banyak hal tentang keummatan di sebuah organisasi yang saya ikuti. Kurang lebih keummatan ini tentang pengabdian, kebermanfaatan, kemaslahatan, kontribusi. Lalu bagaimana saya mengimplementasikan jawaban—yang sudah melekat pada sebuah cita—tersebut dalam realita? Apakah saya harus menjadi pemangku kebijakan? Apakah saya harus menciptakan lapangan pekerjaan? Atau apakah saya harus membuat sebuah penemuan besar? Atau apakah saya harus memiliki omset besar? Sebelum itu, mari mundur sejenak…